Vonis Nenek Minah Dinilai Cederai Rasa Keadilan

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Irman Gusman mengatakan vonis yang diberikan pada nenek Minah (65), warga Darmakradena, Banyumas, Jawa Tengah, mencederai rasa keadilan, walaupun hakim memberikan hukuman percobaan. “Harusnya ini tidak masuk pengadilan, dan ini memperburuk dan menampar citra hukum kita.” ujarnya di Gedung MPR/DPR, Jumat (20/11).

Ia mengatakan hukuman yang diberikan pada nenek Minah terlalu berlebihan, walaupun dia hanya dihukum satu setengah bulan dengan masa hukum percobaan tiga bulan.

“Apa pantas hukuman ini, aspek keadilan tidak selalu seperti itu,” ujarnya. Menurutnya, isu besarnya adalah masalah kemiskinan masyarakat yang harus dituntaskan.

“Saya kira kerugiannya sangat kecil bagi perusahaan. Harusnya perusahaan melihat dan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar kalau memang dia mengaku kakaonya sering dicuri.”

Kemarin Pengadilan Negeri Purwokerto memvonis nenek Minah satu setengah bulan dengan masa percobaan tiga bulan, karena terbukti mencuri tiga butir buah kakao dari kebun milik PT Rumpun Sari Antan di Darmakradena, Banyumas, Jawa Tengah.

Ironi hukum di Indonesia ini berawal saat Minah sedang memanen kedelai di lahan garapannya di Dusun Sidoarjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah, pada 2 Agustus lalu. Lahan garapan Minah ini juga dikelola oleh PT RSA untuk menanam kakao.

Ketika sedang asik memanen kedelai, mata tua Minah tertuju pada 3 buah kakao yang sudah ranum. Dari sekadar memandang, Minah kemudian memetiknya untuk disemai sebagai bibit di tanah garapannya. Setelah dipetik, 3 buah kakao itu tidak disembunyikan melainkan digeletakkan begitu saja di bawah pohon kakao.

Dan tak lama berselang, lewat seorang mandor perkebunan kakao PT RSA. Mandor itu pun bertanya, siapa yang memetik buah kakao itu. Dengan polos, Minah mengaku hal itu perbuatannya. Minah pun diceramahi bahwa tindakan itu tidak boleh dilakukan karena sama saja mencuri.

Sadar perbuatannya salah, Minah meminta maaf pada sang mandor dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. 3 Buah kakao yang dipetiknya pun dia serahkan kepada mandor tersebut. Minah berpikir semua beres dan dia kembali bekerja.

Namun dugaanya meleset. Peristiwa kecil itu ternyata berbuntut panjang. Sebab seminggu kemudian dia mendapat panggilan pemeriksaan dari polisi. Proses hukum terus berlanjut sampai akhirnya dia harus duduk sebagai seorang terdakwa kasus pencuri di Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto.

Kamis (19/11/2009), majelis hakim yang dipimpin Muslih Bambang Luqmono SH memvonisnya 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan selama 3 bulan. Minah dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 362 KUHP tentang pencurian.

Selama persidangan yang dimulai pukul 10.00 WIB, Nenek Minah terlihat tegar. Sejumlah kerabat, tetangga, serta aktivis LSM juga menghadiri sidang itu untuk memberikan dukungan moril.

Hakim Menangis

Suasana persidangan Minah berlangsung penuh keharuan. Selain menghadirkan seorang nenek yang miskin sebagai terdakwa, majelis hakim juga terlihat agak ragu menjatuhkan hukum. Bahkan ketua majelis hakim, Muslih Bambang Luqmono SH, terlihat menangis saat membacakan vonis.

“Kasus ini kecil, namun sudah melukai banyak orang,” ujar Muslih.

Vonis hakim 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan selama 3 bulan disambut gembira keluarga, tetangga dan para aktivis LSM yang mengikuti sidang tersebut. Mereka segera menyalami Minah karena wanita tua itu tidak harus merasakan dinginnya sel tahanan.

Sementara itu Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar merasa prihatin atas kasus yang menimpa kasus Nenek Minah. Para penegak hukum harusnya mempunyai prinsip kemanusiaan, buka cuma menjalankan hukum secara positifistik.

“Itu saya kira sangat memalukan,” ujar Patrialis Akbar di kompleks Istana Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (20/11/2009).

“Penegak hukum memang harus punya prinsip kemanusiaan. Masa nenek-nenek begitu… hakimnya saja sampai menangis melihat nenek itu,” kata Patrialis.

Menteri dari PAN ini berjanji ke depan Depkum HAM akan membuat sistem yang bisa menjawab permasalahan-permasalahan seperti yang sedang dialami oleh Nenek Minah. “Nanti kita bikin sistemlah. Penjara sekarang kan sudah penuh,” imbuhnya.

Secara pribadi, Patrialis juga merasa prihatin dan kasihan dengan nasib yang menimpa Minah. Namun dia tidak mau ikut campur masalah hukum yang dihadapi Minah, karena jalan untuk intervensi tertutup baginya. “Kita tidak boleh ikut campur. Kalau ikut campur pintunya nggak ada,” ujar mantan anggota DPR tersebut.

“Yang bisa kita lakukan adalah membuat kebijakan, dan kedua pengampunan presiden,” tambah Patrialis.

Kasus ini sudah sampai didengar oleh Presiden? “Saya kira sudah terbuka untuk umum,” jawabnya. [berbagai sumber]

Pos ini dipublikasikan di Peristiwa dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Vonis Nenek Minah Dinilai Cederai Rasa Keadilan

  1. Negeri ini memang selalu penuh ironi. Salah satu contoh terbaru adalah bagaimana para ‘pencuri’ kelas teri mendapat hukuman yang kurang setimpal dengan perbuatannya. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh para pencuri ‘koruptor’ kelas kakap yang banyak menghilangkan miliaran uang rakyat.
    Sungguh sebuah fakta yang menyesakan dada. Mudah-mudahan di kemudian hari hal seperti tidak terjadi lagi. Hukuman harus diberikan dengan seadil-adilnya, sesuai dengan beratnya kesalahan yang dilakukan.
    Cara Membuat Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s