Hah? Ternyata Kalimantan Timur Menjadi Tempat Transit Para Teroris

Nasir Abbas_mantan JIBerbatasan langsung dengan Malaysia membuat posisi Kaltim strategis di mata teroris. Penjagaan perbatasan dan administrasi kependudukan yang lebih longgar, membuat bahan peledak dan anggota teroris mudah masuk. Pintu gerbang bagi para teroris menyelundupkan bahan peledak, yakni melalui Nunukan. Itulah pengakuan Nasir Abbas, salah satu mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI).

Dia mengungkapkan banyak fakta, soal jaringan teroris, di hadapan unsur muspida se-Kaltim, saat menjadi narasumber dalam Lokakarya Antisipasi terhadap Serangan Teroris di Kantor Gubernur, Samarinda, (27/7) kemarin.

Dikatakan Nasir, selain pintu masuk di Nunukan lebih mudah ditembus, sistem imigrasi dan kependudukan di utara Kaltim ini lebih longgar. “Bahkan, saya bisa memperoleh beberapa kartu identitas dan paspor,” ujar warga negara Malaysia ini.

Menurutnya, anggapan bahwa Kaltim sebagai tempat pelarian kurang tepat. Pasalnya, hanya Ali Imron saja yang tertangkap di Kaltim. Ali Imron adalah salah satu pelaku Bom Bali I yang menewaskan 202 orang. Dia tertangkap di Pulau Berukang, Kaltim ketika hendak kabur ke luar negeri.

Terakhir, 9 Mei lalu, Densus 88 membekuk Kasiman Marindra alias Usamah alias Abu Zar alias Salim alias Udin di Gunung Samarinda, Balikpapan Utara. Dia merupakan tersangka penyerang pos Brimob Polda Kaltim di Desa Loki, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, pada Senin, 16 Mei 2005 sekitar pukul 03.00 WIT. Lima personel Brimob Polda Kaltim tewas, yakni Bripol Ronny Susanto, Bripol Hasanuddin, Bripol Teguh Aristianto, Briptu Slamet Harianto, dan Bharada Damanik.

Dari tangan Abu Zar, ditemukan dokumen berisi rencana menembak Presiden SBY, mengebom Istana Negara, dan membajak pesawat lalu ditabrakkan di gedung tertinggi di Jakarta.

Nasir Abbas menyebut, Kaltim lebih cocok dijadikan tempat transit dan pintu masuk dari Malaysia dan Filipina.

“Masuk ke Indonesia lewat Kaltim, menjadi pilihan karena alasan-alasan tadi. Tak jarang pula, bahan peledak yang diimpor masuk lewat Kaltim. Saya tidak melihat Kaltim sebagai tempat pelarian,” ujarnya.

Di Indonesia, sambungnya, beberapa tempat perekrutan dan pelatihan, yakni Poso, Sulawesi Tengah dan Ambon.

Nasir masuk ke JI pada 1980-an silam. Jabatan tertingginya sebagai ketua Wilayah 3, yang terdiri dari Sabah, Malaysia, termasuk Kaltim, Kalteng, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah, di Indonesia, kemudian Mindanau di Filipina.

Tugas Nasir melatih anggota JI untuk berperang. Mulai dari strategi, metode penyerangan, sampai menggunakan senjata.

“Saya hanya melatih, bukan terjun untuk berperang. Saat masih di JI, selain sebagai komandan untuk melatih perang, saya juga seorang dosen,” kata pria berkacamata ini.

Dia mendapat keahlian melatih berperang ini, selama berada di Afghanistan. Selama 6 tahun, dia belajar di sana. Kemudian, selama 3 tahun, Nasir mendapat tempaan dari Akademi Militer di Afghanistan.

Di JI, Nasir merupakan senior Noordin M Top, teroris di Indonesia yang paling dicari saat ini. Noordin masuk ke JI pada 1997. Nasir yang kini aktif dalam kegiatan dakwah ini, keluar dari JI pada pertengahan 2003.

PERINTAH OSAMA

Pernyataan menarik dilontarkan Nasir, terkait pengeboman di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta, 17 Juli lalu. Menurutnya, pengeboman ini tak lepas dari penambahan pasukan Amerika Serikat (AS) di Afghanistan.

“Baru-baru ini, AS menarik pasukannnya di Irak, kemudian menambah di Afghanistan. Ini tentu mendapat penolakan dari Taliban dan Al Qaeda,” katanya. Itu sebabnya, kelompok Noordin melakukan pengeboman, atas seruan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden.

Dikatakannya, modus pengeboman ini sangat mirip dengan bom Bali, terutama dari objeknya. Pertama, sasarannya adalah warga negara asing. Kemudian, tempat yang menjadi sasaran adalah tempat terkenal di Indonesia.

“Tujuannya, untuk menarik perhatian dunia. Mengapa Ritz Carlton? Selain banyak warga negara asing, MU (tim sepak bola Inggris Manchester United, Red.) akan menginap di sana. Tentu itu menjadi perhatian dunia. Itu sudah tujuan mereka. Sama halnya dengan Bom Bali,” sebutnya.

Lantas, bagaimana dengan bom yang dirakit di kamar 1808 Hotel JW Marriott? Nasyir menyebutkan, hanya teknisnya saja yang berbeda. “Sebenarnya, modus dan tujuan sama. Kalau bom dirakit di kamar, itu hanya teknisnya saja,” sambungnya.

Nasir keluar dari JI karena sadar organisasi itu tidak sesuai nuraninya. Dia juga menawarkan diri kepada pemerintah Indonesia untuk membantu mengungkapkan jaringan teroris dan meningkatkan keamanan lewat pengalamannya.

“Bukannya saya mencari popularitas. Saya juga sering ditelepon teman-teman lama. Bahkan, ada yang mengancam,” tuturnya.

(Sumber : kaltim Post.web.id)

Pos ini dipublikasikan di Nasional dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Hah? Ternyata Kalimantan Timur Menjadi Tempat Transit Para Teroris

  1. wahyu am berkata:

    wow, kaltim 😆

  2. Reza Anggi Maulana berkata:

    masukan yang bagus ni… terima kasih om Nasir yang telah memberikan informasinya…

    Terorisme harus dilenyapkan dari bumi pertiwi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s