Ketua KPU Terima Bantuan Mega Pro Tanpa Pleno, Selanjutnya Anggota KPU Lapor (SMS) Timses SBY, Selanjutnya Tim Mega Pro Diusir di Kantor KPU, Selanjutnya …

ketua KPU Hafiz Anshary Sekretaris jenderal Partai Demokrat (PD), Marzuki Alie, mendapat pesan singkat (SMS) dari salah satu anggota KPU. Isinya pesan kekecewaan kepada ketua KPU yang sudah mengambil keputusan sepihak menerima bantuan tim Mega-Prabowo.

"Kesalahan terbesar ketika ketua kami berhasil ditekan tanpa pleno, saya amat kecewa," ujar Marzuki, mengutip SMS dari salah seorang anggota KPU yang enggan dia sebutkan namanya, di Gedung Bawaslu, Jl. MH. Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2009).

Menurut Marzuki, dalam SMS tersebut terbersit pesan bahwa KPU tertekan pihak pelaksana penyisiran DPT yang meminjam tempat di Gedung KPU tersebut.

"SMS itu dalam konteks KPU menyatakan 10 juta adalah kesalahan, dalam tekanan," ujar Marzuki.

Marzuki mengeluhkan KPU yang tidak melakukan pleno terlebih dahulu sebelum mengambil sikap. Padahal KPU adalah lembaga independen pelaksana pemilu.

"Bagaimana bisa keputusan diambil tanpa pleno, ini karena intervensi pihak tertentu," keluh Marzuki.

Lebih dari itu, Marzuki mengungkapkan rasa ragunya terhadap hasil penyisiran DPT pilpres yang hanya sehari semalam tersebut. Marzuki menganggapnya sebagai tindakan pembodohan kepada masyarakat.

"Anggap 1 menit 1 kesalahan, paling ketemu 115.200 kesalahan, karena data tersebut hanya dalam bentuk excel," tegasnya.

Keberatan Timses SBY ini diklarifikasi Tim Kampanye Mega-Prabowo. Penghubung Tim Mega-Prabowo dengan KPU, Arif Wibowo, menyatakan komputer dan operator itu hanya pinjaman. "Dipinjamkan untuk proses penyisiran bersama," kata Arif.

Peminjaman komputer ini sesungguhnya sudah disepakati dua tim kampanye lainnya. Tim SBY-Boediono yang diwakili Milton Pakpahan juga setuju, karena operator KPU yang siap mengoperasikan komputer hanya lima orang.

"Karena waktu yang mendesak, tim Mega mengajukan solusi teknis membantu alat dan operator," ujar Arif.

KPU sendiri beralasan bahwa ruangan tempat komputer Mega-Prabowo dipakai untuk menelisik DPT akan dipakai untuk Rapat Pleno KPU. Namun, dengan perintah KPU agar Tim Kampanye Megawati -Prabowo meninggalkan kantor KPU, jelas amat mengecewakan kubu Mega-Prabowo, tak terkecuali Prabowo Subianto.

Prabowo kecewa, karena selain DPT terlambat diberikan dan ditelisik sepenuhnya, mereka sudah keburu disuruh pergi. Pasalnya, DPT itu baru diberikan malam pukul 11.30, padahal Ketua KPU menjanjikan pada pukul 12.00 siang.

Andaipun diberikan pada Senin pukul 12.00, jelas juga terlambat jika mengacu pada ketentuan Undang-undang Pemilihan Presiden. DPT harus ditentukan 30 hari sebelum Pemilihan Presiden digelar. “Begitu ditetapkan, itu seharusnya dokumen publik," kata Prabowo.

Celakanya, DPT itu ternyata baru diberikan kurang dua hari sebelum pemilihan digelar 8 Juli 2009. Dan ketika baru dipelajari selama 11 jam di kantor KPU oleh 80 operator yang mengoperasikan 80 komputer, tim Mega-Prabowo disuruh keluar.

Sampai Selasa siang, penyisiran itu sudah menemukan banyak nama dan nomor induk kependudukan yang terdaftar lebih dari satu kali (ganda), termasuk di Sulawesi dan Kalimantan. Konon, karena saking banyaknya, sampai tak bisa disebutkan. “Sangat banyak dan sulit disebutkan,” kata Ali Mochtar Ngabalin, dari kubu JK-Wiranto.

Benturan kepentingan dan prasangka terus terjadi menjelang Pilpres, karena demokrasi kita masih berwatak prosedural dan jauh dari hal substansial.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Politika. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s