Dicurigai Teroris, 4 Mahasiswa Indonesia Disiksa Kepolisian Mesir

fathurrahman Empat mahasiswa Indonesia di Universitas Al Azhar, Kairo, menjadi sasaran pelecehan dan penyiksaan psikis kepolisian Mesir. Mahasiswa itu dituduh terlibat dengan jaringan organisasi sayap kiri Palestina, Harakjat Al-Muqawwamat Al-Islammiyah alias Hamas. Merteka diamankan dari bangunan dua lantai yang menjadi tempat tinggal mereka di Nasr City pada Minggu (28 Juni) dini hari. Selama ditahan, mereka disetrum dan ditelanjangi.

 

Kronologi kejadian
Pada Minggu dini hari sekitar pukul 03.30 waktu setempat, flat yang terletak di daerah Tubromli distrik 10 Nasr City itu tiba-tiba didatangi sekitar 22 orang. Dua puluh orang di antaranya membawa senapan laras panjang dan berseragam lengkap, sedangkan dua orang berpakaian preman. Mereka kemudian menginterogasi dan mengintimidasi enam mahasiswa Indonesia yang kedapatan ada di dalam bangunan itu.

Setelah melakukan penggeledahan, dua mahasiswa yang hanya numpang tidur di flat itu dilepas. Sedangkan, empat sisanya yang merupakan penghuni tetap tempat itu diamankan. Tiga dari empat mahasiswa tersebut berasal dari Kabupaten Rokan Hulu, Riau, yakni Faturrahman, Arzil, dan Tasrih, Sugandi. Sedangkan Ahmad Yunus berasal dari Kecamatan Bangun Purba, Sumatera Utara.

Salah seorang dari mahasiswa tersebut Fathurrahman, seperti dikutip dari detik.com menceritakan kejadian tersebut sebagai berikut :

"Setiap kali pertanyaan saya jawab dihadiahi sentruman satu, dua, tiga. Di paha kiri, perut kiri, puting susu kanan dan kiri. Ketika saya disetrum seperti itu, saking tidak kuatnya saya sempat memanggil, ibu..ibu..," tutur salah satu korban penganiayaan, Fathurrahman, dalam surat elektroniknya kepada detikcom, Sabtu (4/7/2009).

Fathur bercerita, setelah ditahan pada Minggu (28/6/2009) dini hari, pada pagi harinya mereka lantas diinterogasi secara bergilir. Dirinya mendapat jatah satu jam setelah salat Zuhur.

"Dengan mata tertutup saya dibimbing oleh salah satu polisi ke ruang interogasi. Baru masuk ruangan kemaluan saya langsung disetrum," kata Fathur.

Setelah itu baju Fathur lantas dilepas secara paksa dan digunakan untuk menutup matanya, menggantikan kain yang sebelumnya telah ditutupkan ke matanya. Lalu Fathur disuruh melepas celana dan duduk di lantai dalam keadaan telanjang bulat. Kakinya dilonjorkan sedikit dan diikat oleh salah satu polisi.

"Masih dalam kondisi duduk, tangan saya ditarik ke belakang dan diikat dengan celana yang saya pakai, dan saya diperintahkan berbaring dengan tangan terikat," lanjut Fathur.

Setelah itu Fathur ditanya berbagai persoalan, mulai dari Osama bin Laden, Ikhwanul Muslimin, hingga urusan-urusan pribadi menyangkut ibadah dan kuliahnya. Setiap pertanyaan yang dia jawab selalu mendatangkan setruman di berbagai bagian tubuhnya, mulai kemaluan, puting susu, paha, tangan, hingga perut.

"Apakah Anda salat di awal waktu?" tanya sang interogator seperti dituturkan Fathur.

"Kalau saya lagi mood," jawab Fathur. Kontan dia disengat setruman di buah zakarnya.

"Apakah Anda selalu hadir kuliah?" tanya sang interogator lagi.

"Saya kuliah waktu ujian saja," jawab Fathur. Lagi-lagi buah zakarnya menjadi sasaran setruman.

Begitulah, Fathur lantas dihujani berbagai macam pertanyaan yang tak masuk akal. Antara lain dengan siapa dia main bola, kenapa dia tidak main bola dengan orang Mesir, apakah dia punya teman warga Mesir, apakah dia kenal Osama bin Laden, apakah dia anggota Ikhwanul Muslimin, dan lain-lain.

Fathur menjawab dirinya tidak mengenal Osama. Dia juga mengaku bukan anggota Ikhwanul Muslimin. Setiap jawaban, lagi-lagi, selalu mendatangkan setruman.

Setelah penyiksaan itu berlangsung 15-20 menit, Fathur dilepaskan dari ikatan dalam kondisi lemah lunglai dan ketakutan. Lalu polisi membuatkan berita acara pemeriksaan dan mengembalikan Fathur ke tahanan awal setelah dia mengenakan kembali baju dan celananya.

"Masih di ruang tahanan, saya berdoa semoga tidak diintrogasi lagi sambil sedikit menangis merenungi dosa selama ini," kata Fathur.

Sekitar 20 menit kemudian Fathur dipanggil bersama dua orang temannya, Yunus dan Tasri Sugandi. Polisi menulis data pribadi mereka dan menyuruh mereka kembali ke tahanan setelah ditanya 1 hal, yakni apa pengaruh Osama bin Laden di Indonesia.

"Sambil menangis saya menjawab saya tidak kenal dengan Osama bin Laden," kata Fathur.

Dua jam setelah mereka kembali ke tahanan semula, mereka diberi nasi, gulai daging, dan anggur merah manis. Usai azan Isya, lagi-lagi mereka diperintahkan makan, kali ini ‘ais (roti gandum), selai, dan keju.

"Beberapa teman yang satu tahanan banyak yang mogok makan, tapi tetap dipaksa polisi dengan alasan biar kuat. Saya sempat terpikir kalau dikasih makan banyak seperti ini besok biar kuat diinterogasi lagi," lanjut Fathur.

Pada pukul 23.00 waktu setempat mereka dipindahkan ke tahanan Hay Sittah. Di sana Fathur bersama 18 orang lainnya dijebloskan ke dalam kamar berukuran 4×3,5 yang berpenerangan lampu 5 watt dan hanya memiliki sebuah lubang udara. Mereka tidak diberi makanan maupun air minum. Selama 2 hari ditahan itu mereka terpaksa membeli makanan sendiri lewat penjaga tahanan.

Setelah 3 hari ditahan akhirnya mereka dibebaskan pada Rabu (1/7/20090) pukul 02.00 WIB. Mereka diberi pesan agar tidak bergaul dengan Ikhwanul Muslimin. Jika tertangkap lagi, mereka akan dideportasi ke negara masing-masing.

"Pukul 3.00 kami sampai di rumah dengan selamat berkat doa dari teman-teman yang prihatin dan simpati," kata Fathur mengakhiri penuturannya.

Peristiwa itu dipicu karena empat mahasiswa itu kedapatan membuka situs ikhwan online yang didalamnya terdapat gambar tokoh Hamas Syekh Ahmad Yasin. Di salah satu tembok kamar juga didapati poster tokoh yang sama. Mengetahui hal itu, Kepolisian Mesir langsung menangkap empat mahasiswa Indonesia itu.

KBRI telah menempuh langkah hukum dan melakukan pembelaan. Bahkan mahasiswa itu akhirnya bisa bebas setelah ada bantuan pengacara dan rentetan lobi kepada otoritas setempat. Dua di antara empat mahasiswa itu memang baru berada di Mesir selama tiga bulan dengan bahasa Arab yang pas pasan, dan itu ikut menyulitkan komunikasi dengan polisi.

Kini mahasiswa itu telah diamankan oleh pihak KBRI dan sedang dalam proses recovery. KBRI juga belum menerima kejelasan dari pemerintah setempat. terkait aksi pelecehan itu. Untuk itu, KBRI telah melayangkan nota protes yang intinya sangat keberatan dan menyayangkan cara penangkapan dan penanganan para pelajar asal Indonesia itu. Apalagi otoritas setempat juga tidak memberitahukan kepada KBRI perihal penangkapan itu.

Pos ini dipublikasikan di Internasional dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Dicurigai Teroris, 4 Mahasiswa Indonesia Disiksa Kepolisian Mesir

  1. adi bosz berkata:

    Nauzubillah min zalik, sungguh tindakan yang biadab dan keji,saya sangat mendukung tindakan pembelaan yang dilakukan oleh KBRI,semoga saja Allah membela umatnya yang terzalimi.semua tindakan polisi setempat tidak profesional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s