Pilpres Satu Putaran

capres2009 Pemilihan presiden saat ini ada kemajuan yang berarti. Calon hanya ada tiga pasang, berkurang dibanding pada lima tahun lalu, dengan lima pasang calon. Namun, berapa pun calonnya, kalau lebih dari dua pasang, sangat besar kemungkinan terjadi dua putaran pemilihan presiden. Apalagi ketiganya punya kekuatan yang berimbang.

Melihat betapa sibuknya ketiga pasang calon ini memanfaatkan semua celah untuk kampanye, tak akan ada yang menang mutlak-mutlakan. Menang mutlak itu hanya ada di era Soeharto. Ini pun sejatinya bukan menang, karena Soeharto takut ada pemilihan presiden. Majelis Permusyawaratan Rakyat, yang memilih presiden, dipaksakan memunculkan calon tunggal. Kalau sudah calon tunggal, siapa yang menang atau kalah?

Sekarang, ketika rekayasa menggiring suara rakyat tidak memberi jaminan–meski sudah diberi janji, termasuk uang sekalipun–muncul gerakan yang menginginkan pemilihan presiden berlangsung satu putaran. Dasar pemikirannya bagus, bisa menghemat beberapa triliun rupiah di tengah krisis ekonomi. Cuma, Gerakan Nasional "Setuju Satu Putaran Saja" itu ketua umumnya Denny J.A. (tak usah ditanya siapa yang memilihnya jadi ketua umum) dan menggiring pemilih untuk mencontreng SBY-Boediono. Artinya, gerakan ini merupakan bagian dari kampanye SBY-Boediono.

Tentu saja tim sukses dua pasangan yang lain jadi berang. Padahal, jika menerapkan kampanye yang damai dan bersahabat, konsep satu putaran itu bisa digulirkan oleh semua pasangan dengan jargon masing-masing. Tim sukses Mega-Prabowo, misalnya, akan menyambut ide itu dengan jargon "Oke, Satu Putaran, Pilih Mega-Prabowo". Kemudian tim sukses JK-Wiranto juga setuju satu putaran dengan menawarkan jargon "Pilih JK-Wiranto, Satu Putaran Lebih Cepat Lebih Baik".

Kampanye akan lebih menghibur. Yang jelas lebih mudah dicerna masyarakat dibanding saling sindir dengan istilah-istilah yang tak membumi. Seperti pada acara deklarasi "Pemilu Damai" yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum. Penonton televisi terhibur oleh orasi Butet Kertaradjasa, yang mengkritik banyak hal, termasuk lembaga survei yang bisa dipesan. Banyak yang tertawa, termasuk menertawakan Butet, yang begitu profesional menerima pesanan dan "membela yang bayar", sampai-sampai orasinya–ini bukan monolog karena tak ada unsur seninya–lebih panjang ketimbang orasi calon wakil presiden. Butet saat itu dibayar Mega-Prabowo.

Dalam kasus ini, dua tim sukses yang lain kecolongan dengan tampilnya Butet. Yang terjadi barangkali adalah "kelemahan intelijen". Kalau terendus Butet akan berorasi di pihak Mega-Prabowo, tim sukses SBY-Boediono tentu bisa membayar Mandra, misalnya. Lalu JK-Wiranto membayar Jarwo Kuat atau Kelik Pelipur Lara, yang sudah biasa memerankan Jusuf Kalla di "negeri mimpi". Jika bagi pelucu itu disiapkan bahan untuk "menyerang lawan", tidak ada yang tak bisa.

Rupanya kampanye sekarang ini perlu lebih banyak memakai akal-akalan atau mencuri momen karena Komisi Pemilihan Umum begitu mudah dikibuli, termasuk pada acara yang dibuatnya sendiri, meskipun ditutup dengan permintaan maaf.

Cuma, semakin banyak akal-akalan–survei dan polling, gerakan terselubung satu putaran, orasi berbalut seni monolog, perjalanan dinas tapi kampanye, dan banyak lagi–semakin terbuka akal masyarakat bahwa semua calon itu sesungguhnya memamerkan kekurangan akalnya dalam merebut suara rakyat. Kesalahan para calon dan tim suksesnya hanya satu: mengira rakyat itu bodoh, sehingga dipakailah cara kampanye yang bodoh.

Kubu SBY: Satu Putaran itu Logis
Kubu Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono membantah jika keinginan untuk menyelesaikan pemilihan presiden dalam satu putaran disebut arogan dan menyesatkan publik.
Menurut Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, kemenangan SBY-Boediono dalam satu kali putaran adalah realistis dan logis.
"Yang menyesatkan adalah justru pernyataan yang ingin membangun kesan ke publik seolah-olah SBY-Boediono hanya didukung suara 20 persen dari Partai Demokrat," kata Anas saat dihubungi, Minggu (14/06).
Padahal, kata dia, pasangan tersebut didukung 24 partai politik yang menguasai 56 persen kursi di parlemen dan 58 persen jumlah suara hasil pemilihan legislatif. Jadi, modal awal yang dimiliki pasangan SBY-Boediono sudah memenuhi syarat untuk memenangkan pemilihan presiden dalam satu putaran.
"Dengan modal seperti itu, tanpa dikatakan satu putaran pun, kalau terjaga, ya satu putaran saja," katanya. Apalagi, kata dia, jika modal dasar tersebut bisa ditingkatkan.
Tentang penilaian arogan, Anas juga menanggapinya santai. "Kalau ada orang yang menganggap sombong atau bahkan memprovokasi rakyat, itu yang tidak mengerti modal dasar kami," katanya.
Menurutnya, target yang dipasang SBY-Boediono tidaklah muluk-muluk, yaitu menjaga perolehan suara 24 partai koalisi sebesar 58 persen konsisten memilih pasangan tersebut. "Syukur-syukur bisa lebih," katanya.
Pasalnya, kata dia, masih banyak split voters dari masa partai pendukung pasangan lain yang kemungkinan akan beralih, sementara masa dari partai pengusung SBY-Boediono dinilai cukup solid.

Tim JK-Wiranto Nilai Survei LSI Sebagai Teror Politik
Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia menyatakan SBY-Boediono akan menang dalam satu putaran. Hal ini dibantah mentah-mentah oleh kubu JK-Wiranto.
"Tidak etis survei yang mengatakan demikian. Itu tidak demokratis," ujar Juru Bicara Tim Kampanye JK-Wiranto Yuddy Chrisnandi kepada wartawan usai menghadiri kampanye JK-Wiranto di Padang, Sumbar, Minggu (14/6/2009).
Menurut Yuddy, hasil survei yang demikian tidak memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat. "Itu teror politik untuk mengelabuhi masyarakat. Kita serahkan saja semuanya pada masyarakat biar mereka yang menentukan," jelas Yuddy.

Pos ini dipublikasikan di Peristiwa. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s