Inilah Prediksi Lembaga Survei Menjelang Pilpres 2009. Siapa Paling Akurat ?
Genderang perang dalam Pilpres 2009 saat ini sudah semakin memanas. Bukan hanya antara para kandidat Capres-Cawapres, juga perang prediksi antar lembaga survei. Berikut perbandingan prediksi lembaga survei menjelang Pilpres 2009.
LSI : SBY-Boediono Masih Terunggul Dengan Skor 70 Persen
Jika pemilihan presiden dilakukan sekarang, pasangan SBY-Boediono akan keluar sebagai pemenang. Pasangan yang diusung koalisi Partai Demokrat ini memperoleh 70% suara. Mega-Prabowo menyusul berikutnya dengan 18 %, dan JK-Wiranto 7%. 5 persen mengaku tidak tahu dan belum menentukan jawaban.
Demikian hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang disampaikan di Kantor LSI, Jl Lembang Terusan D-57, Jakarta, Kamis (4/6/2009). Survei dilakukan pada tanggal 25-29 Mei 2009 di 33 provinsi, dengan 2999 responden, pada tingkat kepercayaan 95% dengan margin error +/- 1,8 %.
Signifikansi suara SBY-Boediono di atas 50 % itu ternyata tidak jauh berbeda dari hasil survei satu bulan silam. Pada survei yang dilakukan LSI pada tanggal 3 Mei 2009, pasangan yang dideklarasikan di Bandung ini juga meraih 70% suara.
Sementara Mega-Prabowo di angka 21%, dan JK-Wiranto tetap yang ‘terbuncit’ dengan perolehan 3%. Namun perlu dicatat, dalam survei 3 Mei 2009 ini, pasangan JK belum Wiranto, tetapi mantan Panglima TNI Endriartono Sutarto
Keunggulan SBY-Boediono dibanding 2 pasangan rivalnya tidak terlepas dari tingkat elektabilitas SBY. Sejak Maret 2009 hingga akhir Mei 2009 mengalami peningkatan. Pada bulan Maret 2009, elektabilitas SBY di angka 59%. Pada akhir Mei 2009, angka itu meningkat menjadi 71%.
Peningkatan elektabilitas juga terjadi pada JK. Di bulan Maret 2009, Ketua umum Partai Golkar ini angka elektabilitasnya hanya 5 %. Namun akhir Mei 2009 meningkat sedikit menjadi 6%. Penurunan justru terjadi pada Megawati. Pada Maret 2009 angka elektabilitasnya 21%. Di akhir Mei 2009 merosot ke 16%.
LSI juga mencatat, keunggulan elektabilitas SBY di atas 50 % in terjadi sejak Maret 2009, dan menguat sejak hasil pemilu legislatif yang menempatkan Partai Demokrat sebagai peraih suara terbanyak diketahui secara luas. Ada band-wagon effect pada SBY akibat dari keunggulan PD dalam pemilu legislatif 9 April lalu.
Effect ini diprediksi bakal bertahan hingga hari pencontrengan pada 8 Juli. Jika pun effect itu hilang, elektabilitas SBY masih tetap terunggul, karena akan kembali pada angka elektabilitas awal di 60%.
Ditunggangi Capres, LSI Langgar Etika Survei
Hasil survei tingkat elektabilitas pasangan capres-cawapres yang dirilis Lembaga Survei Indonesia (LSI) dinilai tidak sesuai dengan etika survei yang harusnya mengontrol lembaga survei saat melakukan penelitian.
Menurut Direktur Eksekutif Pusat Kajian Strategi Pembangunan Sosial Politik (PKSPSP) Ibramsyah, survey LSI yang menelurkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY dan Boediono sebagai pasangan yang dipilih 70 persen pemilih menandakan LSI memang sengaja menaikkan citra SBY.
“Yang benar saja lah. Pasti tidak sampai 70 persen. Harus ada kejujuran, kalau hasilnya tidak bisa dibuktikan, itu akan menghancurkan lembaga itu sendiri,” ungkapnya.Menurut dia, sangat mustahi hasil survei LSI bisa dikatakan objektif. Pasalnya, ketiga pasang capres-cawapres mempunyai kekuatan massa yang cukup seimbang.
“Kalaupun SBY unggul, tidak lebih sekitar lima samapi tujuh persen saja selisihnya dengan pasangan lain,” paparnya.
Seperti diketahui, hasil survei LSI pada 25-30 Mei lalu menunjukkan dari 2.999 responden, 71 persen suara memilih SBY-Boediono. Sementara di urutan kedua Mega-Prabowo memperoleh 16 Persen, terakhir JK-Wiranto 8 persen.
Survei LSN: SBY-Boediono Menang Satu Putaran
Pasangan capres-cawapres SBY-Boediono diprediksi akan memenangi Pilpres 2009 dalam satu putaran saja. Bahkan, pasangan yang dideklarasikan di Sabuga, Bandung, 16 Mei lalu itu akan menang mutlak dengan memperoleh 67 persen.
Menurut Lembaga Survei Nasional (LSN), jika tidak terjadi kecelakaan politik atau upaya yang sangat spektakuler dari para kompetitornya, pasangan SBY-Boediono berpeluang besar dapat memenangkan Pilpres 2009 dalam satu putaran saja.
“Berdasarkan temuan LSN, sebanyak 67,1 persen responden mengaku akan memilih pasangan SBY-Boediono jika pemilihan presiden dilaksanakan hari ini,” ujar Direktur LSN Umar S Bakry dalam rilis yang diterima detikcom, Senin (25/5/2009).
Sebanyak 11,8 persen responden, menurut Umar Bakry, akan memilih Megawati-Prabowo dan hanya 6,7 persen yang mengatakan akan memilih pasangan JK-Wiranto. 13 Persen responden belum punya pilihan, sedangkan 1,6 persen akan golput.
Survei ini dilaksanakan tanggal 15 hingga 21 Mei 2009 di 33 provinsi di seluruh Indonesia. Jumlah sampel 1.230 responden yang diperoleh melalui metode multistage random sampling. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan responden. Margin error 2,8 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen.
“Peluang SBY-Boediono menang Pilpres satu putaran sangat terbuka, mengingat responden yang memilih pasangan tersebut mayoritas (88 persen) mengaku sudah mantap dengan pilihannya. Hanya 10,9 persen saja yang menyatakan masih ada kemungkinan berpaling kepada pasangan lain (swing voters),” kata Bakry.
Sementara mereka yang akan memilih Megawati-Prabowo, sebanyak 76,6 persen mengaku sudah mantap terhadap pilihannya dan hanya 18,1 persen yang mengaku masih ada kemungkinan memilih pasangan lain. Sedangkan yang responden yang akan memilih JK-Wiranto baru 56,9 persen yang mengaku sudah mantap terhadap pilihannya.
LRI: SBY 33 %, JK 29 % dan Mega 20 %
Lembaga Riset Informasi (LRI) menyatakan Pilpres akan berlangsung dua putaran. Perolehan suara SBY diperkirakan mencapai 33 persen, JK 29 persen dan Megawati 20 persen.
“Rinciannya SBY mendapat suara 33,2 persen, JK 29,29 persen, Mega 20,2 persen dan undecided voters 18 persen,” kata Direktur Ekskutif LRI Johan Silalahi kepada detikcom, Minggu (7/6/2009).
Menurut Johan, survei itu dilaksanakan di seluruh Indonesia degan melibatkan 2.096 responden. “Pasangan JK-Wiranto mendapatkan dukungan dari eksodusnya massa Islam yang sebelumnya mendukung SBY,” katanya.
Johan juga menantang lembaga survei yang menyatakan Pilpres akan berlangsung satu putaran.
“Kalau memang nanti Pilpres berlangsung satu putaran saya berani menutup lembaga saya. Tapi kalau nanti Pilpresnya dua putaran mereka juga harus berani menutup lembaga mereka,” katanya.
Survei LRI ini berbeda dengan hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang menempatkan SBY-Boediono menang dalam satu putaran dengan perolehan suara 70 %.
Dalam survei LSI itu, Mega-Prabowo menyusul berikutnya dengan 18 %, dan JK-Wiranto 7%. 5 persen mengaku tidak tahu dan belum menentukan jawaban.
Survei LRI Lemah Secara Metodologis
Survei Lembagai Riset Informasi (LRI) yang mendapatkan elektabilitas pasangan Jusuf Kalla-Wiranto hanya terpaut empat persen dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono memiliki kelemahan secara metodologis. LRI mengabaikan sejumlah catatan penting yang menentukan validitas representasi pemilih di seluruh Indonesia.
Demikian catatan Direktur Eksekutif Charta Politica Bima Arya Sugiarto menanggapi hasil survei tersebut di Jakarta, Minggu (7/6). Berdasarkan survei LRI, elektabilitas SBY-Boediono saat ini sebesar 33,02 persen, disusul JK-Wiranto 29,29 persen, dan Mega-Prabowo 20,09 persen. LRI adalah organisasi sayap dalam tim sukses pasangan JK-Wiranto.
Hasil survei LRI ini jauh berbeda dengan hasil survei yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia yang dibiayai Fox Indonesia, konsultan politik SBY-Boediono, yang hasilnya disampaikan kepada publik beberapa waktu lalu. Menurut survei LSI, elektabilitas SBY-Boediono mencapai 71 persen, Mega-Prabowo 16,4 persen, dan JK-Wiranto 6 persen.
Bima memaparkan, ketepatan hasil sebuah survei akan sangat ditentukan oleh validitas responden yang dipilih. Sebuah survei yang ingin menggambarkan kecenderungan pemilih secara nasional harus memilih responden sesuai dengan data Badan Pusat Statistik.
Bima menilai, kelemahan LRI terutama pada validitas responden yang dipilih. “Sampel LRI terdiri dari 50 persen desa dan 40 persen kota. Padahal data dari BPS, penduduk yang tinggal di desa 60 persen,” terangnya.
Selain itu, lanjut dia, untuk tingkat pendidikan responden, LRI mengambil responden lulusan SD sebanyak 31,35 persen, SMP 20,18 persen dan SMA 23,33 persen. Padahal data dari BPS 60 persen penduduk Indonesia adalah lulusan SD, 4 persen SMP dan 18 persen SMA.
Selanjutnya, LRI juga tidak valid dalam menentukan sebaran demografi responden. “Berapa sampel di Aceh, Makasar atau Jawa tidak terlihat. Padahal ini penting,” ungkap Bima.
Menurut Bima, responden yang dipilih LRI mayoritas berasal dari golongan menengah ke atas. Jadi, tidak mencerminkan representasi penduduk Indonesia. “Itulah yang membuat elektabilitas JK-Win naik, karena pemilih dari JK-Wim dari golongan itu,” tutur Bima.
Survei Didanai Capres, Johan Silalahi Siap Dituntut
Presiden Lembaga Riset Informasi (LRI) Johan Silalahi membantah jika ada yang menuding didanai calon preisden tertentu. Dia bahkan siap dituntut secara hukum jika terbukti dibiayani tim sukses JK-Wiranto.
“Apabila ada yang bisa buktikan saya menerima dana dari JK- Wiranto, Partai Golkar atau Partai Hanura, maka saya siap dituntut secara hukum,” ujar Johan dalam press conference Survei Nasional 2-5 Juni 2009, Polling Presiden LRI, di Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakarta, Minggu (7/6/2009).
Johan mengakui lembaga surveinya dibiayai oleh donatur dan para pengusaha. “Jadi tidak dari capres atau cawapres,” imbuhnya.
Johan membantah disamaratakan dengan Syaiful Mujani dari LSI, yang disebut-sebut telah melakukan kebohongan publik. Mujani pernah menolak mentah-mentah tudingan bahwa LSI mendapat dana dari Partai Demokrat dan SBY. “Tapi akhirnya dia mengaku kalau lembaga surveinya didanai Fox Indonesia, kalau saya tidak begitu,” tukasnya.





Waduh..2 lembaga mengunggulkan SBY nih..gawat..gawat..pesanan apa benaran?
Mega-Proa ato JK-Win aja..go..
kulo nuwun,ojo ngisruh,amam-aman wae. oche
Inilah ulah para kapitalis yang mengesampingkan kepentingan bangsa dan negara. padahal rakyatnya adem-adem aja kok, tapi selalu dikomporin oleh ulah-ulah yang merusak ketentraman
[...] menurut pengamat politik Bima Arya Sugiarto ternyata lemah metodologinya. Oia, Berbeda dengan LSI yang terang-terangan mengaku dibiayai oleh [...]
ribet ya?
LSI didanai Fox makanya hasilnya presentase SBY begitu tinggi
LSR dibiayai JK makanya antara SBY dan JK selisihnya sangat tipis, cuma 4%
jadinya malah berarti ada satu bentuk kampanye baru, disamping kampanye turun kejalan, tv dsb. kampanye baru itu bernama survey
Survey jadi kampanye, benarkah???
Kalo benar, makin aneh aja politik di indonesia
hhmm saya jujur semoga JK yang unggul…
jk win unggul…..i…mega pro…tp td dr sby budiono..sby…gue banget…lanjutkan!
salam kenal buat semuanya…
KITA MEMAMNG MACAM2, DULU LAKU PERAMALMEMAKAI KACA BULAT, ADA JUGA JAILANGKUNG YANG PALING AWAL MALAH. KEMUDIAN MUNCUL PARA NORMAL, KMUDIAN “KATANYA”. sEWKARANG LUMAYA KATANYA ILIMIAG “SURVEY”, JUMLAH BANYAK HASILNMYA PUN BANYAK TAPI BERMACAM2, TETAP SAJA SUSAH MEMPERCAYAIINYA. UDALAH CONTRENG SAJA JK-WIRANTO, INILAH PIMP[INAN NASIONALA YANG DIPERLUKAN SAAT IMI.NANTINYA AUAUAUDAH
KITA MEMANG MACAM2, DULU LAKU PERAMAL MEMAKAI KACA BULAT, ADA JUGA JAILANGKUNG YANG PALING AWAL MALAH. KEMUDIAN MUNCUL PARA NORMAL, KEMUDIAN “KATANYA”. SEWKARANG LUMAYAN KATANYA ILIMIAH “SURVEY”, JUMLAH BANYAK HASILNMYA PUN BANYAK TAPI BERMACAM2, TETAP SAJA SUSAH MEMPERCAYAIINYA. UDALAH CONTRENG SAJA JK-WIRANTO, INILAH PIMPINAN NASIONAL YANG DIPERLUKAN SAAT IMI.NANTINYA AUAUAUDAH
biarkan saja, yang penting pilihan tetap pada Megawati..
yang penting lanjutkan…….
Ada suatu pepatah yang berkata bahwa bila seseorang mengatakan dirinya jujur dan bersih maka kemungkinan orang tersebut adalah pembohong dan tidak jujur. Dipengaruhinya LSI oleh salah satu capres yang selama ini mengaku dan menonjolkan kebersihan, kesantunan, dan etika berpolitik membuktikan bahwa pepatah ini benar.
Survei dapat menggiring opini publik, dan LSI telah menodai ilmu sains dengan kepentingan politik. Dan sungguh disayangkan bila kemenangan dilakukan dengan segala cara termasuk dengan mempolitisasi sains.
To. Elcharis
Memang sudah berapa orang yang anda temui bicara mengaku kalau tidak jujur??????????
Jangan Naiffffffffffffffffff
Anda Aja kalau cari duit tidak semuanya jujur…
Ga sah dijawab… KalAU Anda bilang cari rejeki Anda Jujur… Itu berarti sebaliknya.
Itukan kata Anda…
ah kalo yang adakan survey syaiful mujani sih kurang dapat dipercaya, orang dia kiblatnya duit. Dengan duit dia dapat dipesan sesuai selera. udahlah dari pada panjang lebar membahas soal ini.. yang jelas bagi saya ” LEBIH CEPAT LEBIH BAIK ” FASTABIQUL KHOIROT
wahrepot nih mau pilih siapa?!…
eh tau gak ada kontes blog berhadiah laptop cepet buruan daftar info liat disini http://herbamart.blogspot.com
numpang lewat. xixixi.
http://hiduphanyasementara.wordpress.com
Hmmm… hmmm…
SBY masih diunggulkan? Bener tidak yah?
Mulai bimbang pilih yang mana…
Iklan2 JK sangat deras bertebaran diseluruh media…
Bikin bimbang…
SBY apa JK yah…??
(berarti gw termasuk yang 5% masih bimbang pilih apa
ehehehehe….)
rejeki nomblok buat para channel tv n tukang sablon. hehehe..
Yoooo balapan yang kenceng…..
FREEDOWNLOAD YANG BEJAD-BEJAD DISINI
Yang mana pun pilihannya, Yang penting bukan perempuan az -_-”
Yang penting presiden terpilih bener2 pemimpin yg baik.
Kayaknya SBY dengan jingle indomienya lebih kuat ya posisinya..
ini sih tergantung siapa yang bayar saja. lumayan ada proyek di masa pilpres buat ahli nujum statistik.
Tapi hasil semua survey sih masih sama, SBY masih unggul, tapi yang bedanya cuma selisihnya aja, ada yang bilang SBY menang 1 puteran, ada yang bilang 2 puteran
gw pribadi si pengenna pilpres ini satu puteran aja, biar gak ngabisin banyak uang rakyat
inilah cara-cara membentuk opini masyarakat agar memenangkan SBY..
padahal masyarakat pemilih sudah sangat pintar.. bisa menentukan pilihan tanpa terpengaruh… apalagi hanya sisuguhi Mie Instant….
Lebih cepat lebih baik, apalagi yang pro rakyat.. jangan lanjutkan penderitaan rakyat…
kan cuma prediksi….belom tentu bener !!!
salam,
http://bursasepatu.wordpress.com
http://planetshoes.wordpress.com
Capres/Wapres Dilarang Menghalalkan Segala Cara :
Lembaga Survey Seharusnya Tetap Jujur dan Beretika
Calon Presiden/Cawapres yang menghalalkan segala cara terbukti sudah merusak sistem dan independensi lembaga survey. Akibatnya, lembaga survey pun sudah tidak jujur dan tidak beretika lagi dalam menggunakan hati nurani dalam pekerjaannya. Bisa ditebak, hasil survey pun sudah diketahui sejak awal karena merupakan pesanan tim sukses yang juga.
Dalam konteks inilah, sebaiknya rakyat jangan dibodohi lagi dengan hal-hal pencitraan semu yang bisa membuat misleading atau penyesatan informasi. Yang berbahaya, jika penyesatan informasi seperti ini ternyata dipercaya oleh rakyat yang tidak paham masalah-masalah pencitraan ini. Apakah nyaman, memperoleh kemenangan dengan menghalalkan segala cara?
Oleh sebab itu, pernyataan Direktur Eksekutif Charta Politika Bima Arya yang mengingatkan agar lembaga survey tetap menjaga etika serta kejujuran terkait dengan berbagai survey yang dilakukan menjelang Pemilu Capres/Cawapres mendatang, patut digarisbawahi.
Dasar etika pertama yang harus dilakukan adalah menyangkut asal sumber pendanaan survey – yang juga harus dipublikasikan secara jelas dan jujur. Etika kedua, terkait dengan penjelasan validasi sampel dan yang ketiga, adalah kejelasan validasi metodologi. Serta yang keempat, adalah kejelasan rekam jejak.
Seperti sudah dipublikasikan di media cetak dan elektronik, berdasarkan data terbaru 7 Juni 2009, lembaga survey LSI yang dipesan oleh Fox Indonesia (konsultan pencitraan SBY-Boediono) menempatkan Capres/Cawapress SBY Boediono memiliki peringkat paling tinggi sebesar 70% disusul Mega Prabowo 21,18% dan JK Wiranto Cuma 7%. Tentu saja, hasil survey pesanan seperti ini membuat berang tim sukses Mega Prabowo dan JK Wiranto.
Apalagi survey independen yang dilakukan oleh media berdasarkan data terbaru pada saat yang sama memper lihatkan angka yang berbeda. Misalnya, Kompas, Detik, dan Republika menempatkan JK Wiranto pada peringkat pertama dengan masing-masing persentase 76,2%, 43,57% dan 36,1%. Sedangkan di peringkat kedua untuk Kompas dan Detik ditempati oleh SBY Boediono dengan persentase 13,21% dan 29,56%. Untuk peringkat kedua Republika ditempati oleh Mega Prabowo sebesar 35,3%.
Bagi rakyat, siapapun Presiden/Wapres- nya nanti tidaklah begitu penting. Namun perjalanan menuju Presiden/Wapres hendaknya tim suksesnya melakukan kampanye dan pencitraannya secara jujur dan beretika. Jelas, upaya tim kampanye yang menghalalkan segala cara serta melakukan pencitraan secara kasar, emosional, dan membabi buta, dipastikan akan menjadi boomerang yang sangat mencelakakan bagi Capres/Cawapres itu sendiri.
LEMBAGA SURVEI… KITA LIHAT AJA HASILNYA, KALO MELESET SAMPE KAPANPUN GAK AKAN PERNAH DIPERCAYA LAGI
TAPI KAYAKNYA DI PILEG KEMARIN MASIH AMPUH TUH PREDIKSINYA
MEMANG KALO JAGONYA KALAH, MACEM2 REAKSINYA…
COOBA KALO JAGONYA YANG DIMENANGKAN, PASTI ADEM-ADEM AJA…
TUL GA’…………
LANJUTKAN
Hasil survey lembaga manapun berhak untuk dipublikasikan ke masyarakat, yang perlu diingat adalah kebeneran dari hasil survey tersebut tidaklah absolut, semuanya relatif. Masyarakat punya hak untuk berapresiasi terhadap informasi hasil survey, akan tetapi masyarakat mempunyai hak yang lebih azazi yakni hak jawab pada pemilu nanti. Saya fikir lebih baik para tokoh yang terlibat dalam lembaga-lembaga survey untuk mencoba mengakomodir isu-isu kritis yang diberikan oleh masyarakat melalui pooling suara untuk kemudian disampaikan pada para capres cawapres sehingga dapat melengkapi penjabaran visi dan misinya, atau bahkan dapat dijadikan bahan awal guna menyusun kebijakan dan program nyata di kemudian hari setelah terpilih. Jangan sampai masyarakat digiring pada pembentukan kultus kepercayaan dan kultus harapan, karena dapat melalaikan tangggungjawab kesemuanya. Berilah keadilan pada masyarakat untuk memahami seutuhnya proses demokrasi melalui penyampaian informasi yang proporsional. Semua capres dan cawapres saya fikir baik, tapi masyarakat akan memilih mana yang dianggap lebih baik, atau mungkin terbaik. Bicara masalah pro rakyat, wong sudah menjadi kewajiban pemimpin untuk mengayomi rakyatnya, bicara masalah percaturan global juga sudah sunatullah, kita harus bekerjasama dengan siapapun, kapanpun dimanapun selagi tujuanya untuk kebaikan bersama, baik ekonomi,politik, sosial maupun budaya. La wong Nabi Muhamad, SAW aja berdagang sampai ke negeri Syam, tapi Beliaupun tidak melalaikan tugas kenegaraanya untuk mencerdaskan dan mensejahterakan masyarakat mekah dari kejahiliyahan…Kalau SBY Budiono bisa melakukan hal ini saya yakin tanpa surveypun masyarakat akan tahu itu, begitu juga calon yang lainya.
Kita lihat aja hasilnya nanti, bagi saya hasil prediksi dari berbagai lembaga survey itu tidak bisa menjamin. Yang penting pilihanku adalah calon yang pro terhadap rakyat yaitu MEGA PRO
gue sih pilih presiden baru aja…
semoga sesuai dengan slogannya LEBIH CEPAT LEBIH BAEK..
udah bosan jadi orang miskin….
jika pilihan 1 tdk baik,pilih aja no.2…jika 2 udah ok,buat apa milih 3.
Kalla = Bencana
istri saya pilih SBY, saya dukung.
tapi saya sampaikan istri saya bahwa saya akan pilih JK.
alasan saya : JK natural, dan saya yakin dia amanah.
Lakukan penghematan!!!
Jangan bebani rakyat dengan hutang pasca pilpres.
Lumayan bgt,4 Trilyun dana pilpres putaran 2 khan bisa dialokasikan untuk pembangunan sektor riil.
Daripada hambur2 uang,mendingan nabung buat 5 tahun mendatang.
Fair dong..
Yang Kalah, harus terima dan yang menang tetap rendah hati.
Itu pemimpin yang baik.
Tanpa adanya bisikan2 “setan” disekitarnya.
Mereka smua tdk turun merata d daerah n smua kalangan masy dg sgl kepentingan pribadi n golongan. Cb tolonglah buka hati nurani kalian,sadarlah akan penjajahan yg berkelanjutan,cintai negeri ini seutuhx dg nurani n perbuatan.Saat ini sosok JKWin lah yg sanggup n pantas tuk berbuat n melanjutkan krn Jk pulalah yg prnh melakukanx dg tegas dan bijaksana tuk kpntingan bangsa. Jgn bdohi masyarakat dg opini n trik strategic yg akhirx rakyat jualah yg tertimpa musibahx. Ruby rerepro@yahoo.com
kalo memang dasarnya orgnya punya karakter ya pasti dapat simpati dan acungan jempol dari orang lain.Ga cuman berkowar-kowar untuk memberikan janji2 palsu. Biar aja pak SBY, lanjutkan perjuangan membangun Indonesia.
Ketua LSI mau jadi menterinya pak SBY kali ya…JK Maju terus seluruh rakyat Indonesia mendukungmu..majukan Indonesia agar tidak kalah dengan singapur dan malayasia..malu sama tetangga bangsa begini besar cuma bisa ngirim TKI doang..SBY Stop tebar pesona dan pura -pura terzolimi termasuk maslaha ilmu hitam.simpan jurusmu itu ..kita butuh kesejahteraan bukan kepura-puraan…
Yang penting aman,rezeki tidak dari program sok merakyat dr JK-WIN ataupun MEGA Pro.Jadi Lanjutkan,satu putaran saja trus cari uang yg halal lagi.
Mari kita dukung pilpres 8 juli 2009 dengan penuh tanggung jawab. Perbedaan itu biasa..yg luar biasa adalah apakah kita mampu hidup rukun dalam perbedaan? Siapapun yg menang nanti,mari kita dukung demi bangsa tercinta,salam sejahtera
aduh—aduh—
gitu aja kok bengong
kalo sby menang lagi yo wjr2 wae.
koroptor di tangkap dan diadili tanpa pandang bulu toh, mo bukti: aulia pohan aja bisa di ponis 4,5thn. itu besannya sby.
Bagi saya sebagai rakyat kecil, 1 putaran lebih bagus. Tidak besar – besar keinginan saya sampai menyimpan 4 trilyun, tapi sederhana, sya berharap kondisi iklim politik di indonesia segera mereda, saya sudah bosan melihat semuai ini, dan waktu saya tidak habis hanya untuk pergi ke TPS, dan segera mencari nafkah yang halal, sebab anak istri butuh makan, karena makan anak istri saya tidak di tanggung oleh kandidat presiden.
“mari dukung yang menang siapapun itu, dan yang kalah harus legowo”
Kalau menurut saya mencari rezeki yang agak lancar ya jaman sekarang ini, jamanya SBY, kebijakannya memudahkan pengusaha kecil seperti saya. Ini bukan kampanye tapi bukti yang saya rasakan.
Bagi saya apa arti pentingnya survey, itu hanyalah isapan jempol para pesulap yang tidak laku akhirnya membuat manuver yang kalah lucunya dengan srimulat,yakinlah mereka yang bermain angka survey itu hidupnya hanya mengemis dan memohon supaya diberi imbalan untuk hidupnya.
Bagi saya Pemimpin bangsa saat ini jelas dan nyata tiada lain pasangan Nusantara, JK WIN kan jelas Jusuf Kalla Menang
dibayar berapa ya tim surveynya????????????????ndax mgkin gratiskan?????????????jadi yang bayar kuat sapa ya???biasanya yang melambung sie….