Gaya Penipuan OMNI International Hospital Alam Sutera Tangerang
Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International.
Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas
tinggi dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan percaya bahwa RS
tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli
kedokteran dan manajemen yang bagus.
Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39
derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000, saya
diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000. Dr. Indah menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan tapi saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr. Indah adalah dr. Henky. Dr. Henky memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.
Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau ijin
pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr
Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam
bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?), saya kaget
tapi dr. Henky terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa ijin pasien atau keluarga pasien. Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan
tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak yang masih batita jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.
Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap
suntik tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya
meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu box lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.
Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr. Henky namun dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa, setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr. Henky saja.
Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.
Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr. Henky saja. Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya.
Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.
Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan kami namun janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.
Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri saya.
Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter tersebut
malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan
kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr. Henky bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. Dr. Henky menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.
Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai
membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi saya membutuhkan
data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan
data medis yang fiktif.
Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow upnya
samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang
181.000 bukan 27.000.
Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat
dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak
adalah 181.000, kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan setelah saya
complaint dan marah-marah, dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.
Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Ogi (customer service coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya benar-benar
dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang tidak ada service nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan complaint tertulis.
Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas nama Ogi (customer service coordinator) dan dr. Grace (customer service manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.
Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan
dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000
makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit
181.000 saya masih bisa rawat jalan.
Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah complaint saya ini tidak profesional samasekali. Tidak menanggapi complaint dengan baik, dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr. Mimi informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen dan dr. Henky namun tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.
Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya
dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular, menurut
analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah
parah karena sudah membengkak, kalau kena orang dewasa yang ke laki-laki
bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. Saya lemas
mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas.
Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.
Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000
tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut. Saya telepon dr. Grace sebagai penanggung jawab compaint dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya namun sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang kerumah saya. Kembali saya telepon dr. Grace dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah, ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali, dirumah saya tidak ada nama Rukiah, saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya kemana kan? makanya saya sebut Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.
Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan etika mengenai
pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard International yang RS ini
cantum.
Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami, pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181 000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.
Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? karena saya ingin
tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya
RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. Dan setelah beberapa kali kami
ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah
FIKTIF dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada
suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa
langsung tertangani dengan baik.
Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan
asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.
Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni (dr. Bina) namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.
Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang
selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak
jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu
yang cukup untuk menyembuhkan.
Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing,
benar…. tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang
dpercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan, semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.
Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dr. Grace, dr. Henky dr. Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda.
Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.
salam,
Prita Mulyasari
Saya ikut prihatin Bu…,
Tuntut balik saja Rumah sakitnya ….
Yth dr. Hengky, dr Grace, dr. Bina dr.Mimi dan Ogi…..anda manusia juga khan, semoga anda tidak pernah sakit dan tidak berobat ditempat lain…..
Ibu Prita, setiap RS ada standar prosedur, ada Komite medik, dan ada majemen rekam medik. Sebaiknya Ibu tenang, tidak terjebak emosi. Coba tulis semua yang Ibu alami dengan detail, objektif dan kirim ke email saya juga. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya Jumat 29 Mei 09 di Puri Ardhya Garini,m saya mengikuti KONAS I Hukum Kesehatan yang pada akhir KONAS ditutup oleh Ketua Badan Pembina Hukum. Saat itu beliau menarasikan keprihatinan mengenai kasus ini. Saya yakin semua menusia yang sdar hukum sangat ingin membantu Ibu. Salam saya
grup ini memang powerful, Omni, Sinarmas, Arara Abadi, Smart punya bank, asuransi, rumah sakit, telekom, menguasai hutan dan perkebunan, dst. Pernah dengar petani ditahan dan mendapat kekerasan polisi di riau? Mafia Peradilan mungkin sudah ditangan, waspadalah waspadalah kalau Anda kesana bisa dapat mal-praktek sekaligus bonus penjara
grup ini memang powerful, OMNI, SINARMAS, ARARA Abadi, SMART … punya bank, asuransi, rumah sakit, telekom, menguasai hutan, dst. Pernah dengar petani ditahan dan mendapat kekerasan polisi di riau karena berurusan dg mereka? Mafia Peradilan mungkin sudah ditangan, waspadalah waspadalah kalau Anda kesana bisa DAPAT MAL PRAKTEK sekaligus BONUS PENJARA
wah ini kejadian aneh…. orang memberi masukan dan keluhan kok malah dituntut dan dipenjara. saya benar-benar jadi ragu dengan profesionalitas Rumah Sakit OMNI International Hospital. dan saya yakin Rumah sakit ini bakal segera kehilangan banyak pasien…… untuk ibu Prita, saya salut dengan anda semoga diberi ketabahan. ini adalah bentuk lain dari penindasan oleh sebuah kekuasaan.
Sepertinya masalahnya ada di sistem inform concern. Tetap semangat buat ibu prita
kebodohan yang dibungkus dalam balutan intelektual!!
kebodohan yang dibungkus dalam balutan intelektual!
Masya ALLAH… Mengapa ada orang2 yg memiliki title mulia dimata manusia bisa melakukan hal paling hina yaitu menyakiti sesama hanya untuk mencari keuntungan materi bagi golongannya semata… Ya ALLAH bukakanlah hati mereka dengan TEGURANMU yg maha dashyat agar tidak ada lagi prita atau korban yang lain setelah ini…So,don’t just the book from the cover…
Untuk saudara2qu yang lain berhati2lah, sekarang ni semakin marak mal praktek… So, tindakan yang paling bijak dapat kita lakukan adalah MENCEGAH lebih baik daripada MENGOBATI… Syukurilah nikmat sehat yang sudah ALLAH berikan kepada kita dengan menjaganya… Perbanyak olahraga dan shaum (puasa) agar tubuh kita lebih bersih dari kotoran penyebab penyakit…
So,Kembalilah pada Al Qur’an dan Assunnah untuk kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat…
perihatin….
orang komplain pun di hukum????
negara macam apa ini????
http://ekojuli.wordpress.com/
preseden buruk bagi pelayanan pelanggan,YLKI ayo bantu konsumen nih, ini rumah sakit di pra-peradilkan saja. penegak hukum tolong adil, ini preseden kalo yg benar disalahkan maka dunia ini tinggal tunggu hancurnya saja
Hai para dokter dan seluruh tenaga medis,
bekerja lah yang benar…
Kami ini manusia, bukan kucing….
jadi diagnosa-lah yang baik dan benar…
Coba, anak anda yang diperlakukan seperti itu…
Mau…mau…mau…?
Tinggal tunggu waktu saja permintaan maaf dari RS OMNI, walaupun banyak oknum yg terlibat tapi kita masih punya pemimpin yg jujur dan baik. Kebenaran pasti menang meskipun harus merasakan sakit dahulu.
Ini sebenarnya kritik bagi para paramedis, seharusnya mereka menjawab dengan tulisan juga. Mosok dokter gak bisa jawab sih…………., kalau mereka merasa hal tersebut tidak benar cobalah dijawab.
Mungkin dokternya malu menjawab lewat tulisan karena tulisan mereka kan rata-rata jelek (tulisan mereka di resep malah gak bisa dibaca sama sekali oleh orang awam). he he he
Penjarakan aja dokter-dokter kayak gitu….mungkin dia hanya karena kaya jadi dokter bukan karena pintar….karena bisa kasih uang banyak jadi lulus jadi dokter…hati-hati…
[...] [...]
sekarang dokter semua jahat-jahat. dia bukan manusia yang dia pikir, keluarga atau familynya ga bisa sakit. ingat yang jahat,kejam bukan RS.nya tapi manusianya.
Ternyata masih ada org2 goblok bergelar dokter di tanah air tercinta ini, tdk heran kenapa banyak orang berobat keluar negri.
Kalau kita urunan uang untuk support Prita untuk gantian menuntut balik Rumah Sakit karena pencemaran nama Prita, bagaimana ?
ehm kalau benar kasusnya seperti ini… inilah contoh ilmu yang tidak diimbangi iman dan ahlaq.. menghalalkan segala cara untuk dapet dunia…
nggak peduli pada sesama…
pie..pie..
Bu Prita sudah kembali ke rumah katanya … gak dipenjara lagi. Alhamdulillah
Alhamdulillah, dukungan dari semua pihak, terutama para blogger, facebooker akhirnya tidak sia-sia. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi.
Enggak dipenjara, tapi masih tahanan kota… pindah tempat doang…
tapi yang penting bisa ketemu anak-anak dulu dah…
Dokter bukan Tuhan, entar juga pasti MATI, biar mereka menanggung azab atas hasil perbuatannya…
ya, betul. Prita dibebaskan, namun statusnya tahanan kota. Mudah-mudahan RS Omni tidak ngotot melanjutkan perkara ini. Kalau tetap ngotot rugi sendiri.
ya seandainyapun ada tulisan ibu prita yang kurang tepat, karna memang beliau kan tidak mengerti kedokteran, harusnya dijawab saja dengan baik.
tapi kenapa musti ditahan?
gimana kalo misalnya ibu prita orang kaya, terus bisa membayar orang2 hukum untuk lalu menangkap dokter2nya, dengan tuntutan yang lebih berat semisal penipuan pasien.
ini masalah siapa yang lebih punya duit aja
Sungguh keterlaluan…..
Sebaiknya, kasus ini menjadi PR bagi UU ITE dan entitas kesehatan dinegeri ini yang kerap menjadi alasan bagi banyak warga Indonesia yang selama ini lebih memilih untuk berobat ke luar negeri atau ke paranormal
http://engeldvh.wordpress.com
wah… kasusnya aneh..
kok malah mbak prita yg dituntut
ibu prita memang sudah pulang,tapi menurut berita terakhir malam ini, besok adalah sidang pertamanya, mari kita doakan semoga keadilan tetap berpihak pd ibu prita,dan saya yakin Allah swt Maha Adil apalagi bagi orang yg teraniaya seperti ibu prita ini,salam.
semoga keadilanbisa ditegakkan
.
Kami menunggu kabar Baik
Hmmmmmmmm…..ini kisah jadi engiatkan kasus Suzuki pemilik saham suzuki di jepang yang bunuh diri…
dia Bunuh diri gara2 konsumen tidak puas….
tapi di kita malah konsumen dibuat tidak puas…..
aduhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Indonesia………..go go go
[...] merasa kecewa atas pelayanan RS Omni Internasional Alam Sutra, lalu menulis surat terbuka melalui E-mail kepada beberapa temannya. Sebuah bentuk komunikasi yang lazim di antara warga masyarakat modern. Tak [...]
Maaf, tapi isi email anda berbeda dengan blog tetangga sebelah, saya kuatir terjadi revisi yang tidak benar dan saya tidak tau yang mana yang benar >,<…..
Ibu Prita mengirim keluhannya di beberapa milis, yang ini keluhan Ibu Prita di forum.kompas.com dengan alamat :
http://forum.kompas.com/keluhan-pujian/5667-gaya-penipuan-omni-iternational-hospital-alam-sutera-tangerang.html
dr. hengky & jajaran management…. POTONG SAJA K**T*L KAU…. SUDAH SALAH BKNNYA MINTA MAAF…. MUKA K**T*L KAU…
KARENA RS OMNI SEPI PASIEN, JD PASIEN SEHAT JG HARUS DRAWAT….. LUMAYAN BWT NAMBAH “BOR” RS… BETUL KHAN HENGKY…..????
Jangan jangan karena namanya RS Omni Hospital International jadi ngga bisa bahasa Indonesia kali, terus dicek ada email yang bikin RS Omni kok jadi makin sepi pelanggan (karena niatnya cari duit). Nah dapetlah email ini. Bo ya kalau ngga ngerti Bahasa Indonesia jangan bisnis di Indonesia gitu loh RS Omni !
Selamat buat ibu Prita akhir bisa keluar jd tahanan kota, ini masalah kita bersama jangan ada lagi ibu Prita yang lain
Saya Turut perihati atas apa yang menimpa ibu Prita..
Rumah Sakit apaan tuh kayak gitu,, dr. nya Goblok sekali lebih baik dokter kayak gitu di pecat aja kalo dia jadi PNS and dari IDI juga jangan ngelindungin Anggotanya yang salah and menutup-nutupi kasusnya, kalo dia salah patal lebih baik di pecat aja,, ato kalo IDI tidak bisa memecat lebih baik IDI dibubarin aja.. Direktur RS Omi dan Staf RS Omi Tidak Propesional Banget ya, padahal RS Omi kan Rs Internasional, Bubarin aja tuh Rs kok orang sakit dibikin tambah sakit, orang berobat itu untuk sembuh Pak Bukannya penyakitnya malah tambah parah.. malah dituntut lagi,, terutama dr. Hengki Perlu diperiksa dan dijatuhi Hukuman yang setimpal..
saya tidak habis pikir kalo seandainya hal ini terjadi pada rakyat kecil yang tidak mampu, ibu pita aja yang pegawi bank bisa dizalimi apalagi pada tukang cendol yang ndak nerti harus ngadu kemana, mungkin akan lebih parah lagi.
Nama boleh pake International…. pelayanan tetap Made In Indonesia
Apa bedanya keluhan lewat surat pembaca dengan email?
Rasanya kok aneh, ketika keluhan dilontarkan bukannya dijawab dengan argumen yang masuk akal, malah dipersalahkan
gak usah ke RS Omni!bahaya!udah sakit, dipenjara pula!
[...] Inilah Email yang Membuat Prita Mulyasari Ditahan Gaya Penipuan OMNI International Hospital Alam Sutera Tangerang Saya tidak mengatakan semua RS International seperti [...] [...]
RS.OMNI…BANYAK ORANG PINTER DISITU KOK MEMAHAMI EMAIL SAJA TIDAK BISA,APA MUNGKIN PERLU DIKULIAHI TENTANG ILMU PEMAHAMAN.APA MUNGKIN KARENA ANDA PUNYA UANG HINGGA BISA SEENAKNYA DOLANAN HUKUM.KASIHAN MBAK PRITA,SAYA DUKUNG MBAK,SEMOGA MBAK BAIK DALAM SEGALANYA..AMIIN.
Sekalian aja tuntut orang-orang yang komentar disini brow?!?….
Heran aku, APA MEREKA NGERTI EMAIL NGGAK YA… Apa mereka tahu apa itu milis gak sih, dari dulu juga soal keluh mengeluh udah biasa di milis-milis, kalo jamannya kakek gua ya mengeluh di pos ronda, ato di emper mesjid beres solat magrib, kalo sekarang jaman nya udah berubah, mengeluh bisa pake email bisa pake SMS atau apalah…
Payah payah payah payah….
Tadi siang aku sempet gembira katanya ibu prita bebas, tapi eh ternyata bukan bebas, masih tetep tahanan (ya walau lebih ringan –tahanan kota)
tabah ya jeng..